Kalau Anda orang Jakarta, atau bukan orang Jakarta tapi cari rizki di Ibukota, pasti sudah terpaksa bersahabat dengan macet. Jam berapapun. Bahkan sampai pukul 11 malam saja, juga sering macet.
Jalanan sudah ditambah. Sampai bersusun-susun. Transportasi umum yang lebih manusiawi juga sudah. Tapi masih saja macet. Bahkan jalan-jalan tikus pun ikut menanggung beban: anak-anak dilarang orang tuanya berlarian di halaman depan rumahnya yang kebetulan jadi jalan tikus alternatif.
Pengendara mobil, sudah tidak tabu lagi naik ojek untuk mengejar rapat di tempat yang lain. Polisi sudah tidak berdaya untuk menegakkan hukum dengan melarang pengendara melewati jalur TransJakarta (busway).
Loh ini tulisan apa sih. Mau ngomong bisnis apa soal sosialita Ibukota? Sabar pembaca. Tiba-tiba penulis bertemu dengan orang yang baru saja beli sepeda motor Mio. Dia heran, punya duit untuk beli tunai, akhirnya justru memilih beli kredit. Masalahnya, sang pedagang bilang, kalau beli sistem kredit, besok motor diantar. Warna hitam yang dipilihnya dua unit, siap diantar. Kalau beli tunai? “Saya disuruh indent, nunggu sebulan baru bisa dikirim. Sudah gitu ndak janji lagi katanya. Sama saja tidak boleh beli cash,” kata orang itu.
Di hari yang lain, seorang sales sebuah dealer mobil mewah CBU (completely built up) menyampaikan mau pindah kerja ke penjualan mobil biasa, bukan CBU. Masalahnya, di mobil mewah dia dapat komisi sedikit dan sekali saja, karena pembelinya selalu cash/tunai. Sedang di mobil biasa seperti Kijang, Terios, Rush, APV dll pembelinya sebagian besar dengan cara kredit yang ditopang lembaga pembiayaan/bank sehingga komisi bunganya menurut dia lumayan.
Lalu apa hubungan kedua cerita di atas dengan kemacetan Jakarta. Kalau mau jujur, dan terus terang, salah satu penyebab kemacetan adalah efek bisnis model yang dilakukan lembaga pembiayaan/bank. Walau sebagai penyebab, tapi mereka tak pernah jadi tersangka kemacetan Jakarta! Meski bisa jadi sebagai salahsatu biang, tapi inilah risiko sebuah bisnis model.
Bisnis Model
Di era saat ini, pilihan bisnis model memang sangat-sangat luas. Ada saja ceruk kreativitas yang sepertinya berada di luar pikiran kita, ada sesuatu peluang, yang orang lain mungkin tidak membacanya. Sebuah bisnis model, bisa mengubah suasana yang semula lesu jadi eforia.
Bila dahulu untuk membeli sepeda motor selalu dengan tunai, atau kalau kredit uang mukanya minimal sampai 40%. Itupun dengan syarat sudah kenal baik sama dealer. Sekarang, hampir semuanya kredit. Cukup dengan Rp 500 ribu sudah bawa motor pulang. Bahkan banyak yang mengedarkan sepedamotor keliling ke kampung-kampung seperti halnya jualan gado-gado dorong. Karena uang muka yang murah dan cicilan ringan, meski harus bayar dalam tempo lama, tidak masalah. Yang penting murah (DP-nya), mudah (syaratnya), cepat (prosesnya), dan tidak peduli punya utang lama.
Begitu juga mobil. Dengan duit di kantor cukup Rp 10 juta saja, sudah bisa bawa mobil baru yang kelas menengah ke bawah. Kalau dulu tidak minimal 30% uang muka (down payment/DP), sekarang 10% juga bisa. Agunannya, gampang, bukti slip gaji dan SK karyawan. Bahkan mungkin ada yang lebih ringan dari itu.
Tengok saja, berapa mobil terjual menurut Gaikindo pada tahun 2007. Ternyata sebesar 432 ribu unit. Tahun sebelumnya 318 ribu unit. Malah membanggakan: penjualan melampaui target. Sebagian besar sekitar 40%-nya terjual untuk kawasan “Great Jakarta” alias Jabodetabek. Kalau setiap mobil luasnya kira-kira 4m persegi, hanya untuk 2 tahun terakhir saja sudah dibutuhkan lahan seluas 3.000.000 m persegi (300 ha).
Memang pak DLLAJR atau Polisi tidak bergesekan sama sekali dengan lembaga pembiayaan/bank dalam urusan kredit ini. Namun, karena sebuah bisnis model tidak terbayangkan bisa menjadi salah satu penyebab kemacetan. Bisnis model penjualan langganan lagu di handphone yang gratis dulu bayar kemudian/bulan kedua. Yang mana ketika di bulan-bulan berikutnya akan dikenakan otomatis perpanjangan sebagai subscriber sampai pengguna/subscriber lupa lagi bagaimana cara menonaktifkannya.
Bisnis model memang semakin banyak dan sanga-sangat dimungkinkan di era sekarang ini. Dan, bukan tidak mungkin efek dari bisnis model sering tidak pernah diduga, menimbulkan masalah di kemudian hari secara tidak terduga yang bisa menyenangkan dari sisi revenue tapi ada efek harga sosial yang harus dibayar yang tidak serta merta menjadi beban bagi perancang maupun pelaksana bisnis model itu sendiri.
Mengapa kondisi perekonomian indonesia tidak sebaik dinegara2 lain, salah satunya bisa juga disebabkan karena hal ini. bisnis model yang semacam ini justru membuat rakyat semakin terpuruk. Boleh diamati, orang indonesia yang “terlihat” sudah mapan (punya rumah dan kendaraan) bisa jadi justru dia termasuk orang miskin (miskin dalam artian setiap hari memikirkan hutang yang menumpuk karena barang yang dikonsumsi semakin banyak dan mahal, sementara prosentase kenaikan pendapatannya teramat sanga kecil). Boleh dibilang orang indonesia (terutama metropolitan) cenderung menuhankan prestise dengan resiko yang sangat besar seperti ke”miskin”nan tadi. Kasus banyaknya credit macet juga bermula dari sini.

